LIPUTAN KUNINGAN- Ditengah kenaikan nilai tukar dolar yang memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan, ternyata kebiasaan nongkrong di kafe masih menjadi bagian dari gaya hidup anak muda.
Hal tersebut terlihat dari hasil wawancara yang dilakukan di Kafé Mokopi, salah satu kafe yang cukup populer di Kabupaten Kuningan. Adapun lokasinya di Desa Ancaran Kecamatan Kuningan.
Barista Kafé Mokopi, Sri menjelaskan bahwa meskipun kenaikan dolar sedikit memengaruhi harga beberapa bahan baku. Namun, kondisi tersebut belum berdampak pada jumlah pelanggan maupun harga menu yang ditawarkan.
Menurutnya, Kafe Mokopi yang telah berdiri sejak tahun 2019 dan kini memiliki dua cabang di Kuningan tetap ramai dikunjungi, terutama oleh kalangan remaja dan anak muda.
“Kenaikan dolar memang membuat beberapa bahan baku mengalami kenaikan harga, tetapi tidak terlalu besar. Kami juga belum menaikkan harga menu karena sebagian bahan diperoleh dari PH Bandung melalui agen, sehingga harganya masih bisa disesuaikan,” jelas Sri belum lama ini.
Ia juga menambahkan bahwa waktu paling ramai di Kafé Mokopi biasanya terjadi pada jam makan siang atau sekitar waktu Dzuhur. Menariknya, tingkat kunjungan pelanggan justru lebih tinggi pada hari kerja (weekday) dibandingkan akhir pekan (weekend).
Sri berharap kondisi ekonomi segera membaik sehingga harga bahan baku tetap stabil dan harga menu dapat terus dipertahankan agar tetap terjangkau bagi pelanggan.
Sementara itu, hasil wawancara dengan beberapa konsumen menunjukkan bahwa dampak kenaikan dolar dirasakan secara berbeda oleh setiap individu.
Nayla, salah satu pelanggan setia Kafé Mokopi, mengaku masih cukup sering datang untuk nongkrong. Namun, ia mulai mempertimbangkan pengeluaran karena biaya transportasi, khususnya bensin, terasa semakin mahal.
Menurutnya, harga menu di Kafé Mokopi juga masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi masyarakat di daerah. Tapi masih cukup terjangkau.
Berbeda dengan Nayla, Rani mengaku kenaikan dolar tidak terlalu memengaruhi kebiasaannya untuk datang ke kafe. Meski demikian, ia tetap mengatur frekuensi nongkrong agar pengeluaran tidak berlebihan.
“Saya menilai harga menu yang ditawarkan Kafé Mokopi masih sebanding dengan kualitas yang diberikan,” sebutnya.
Kedua konsumen tersebut mengenal Kafé Mokopi melalui media sosial TikTok, tepatnya dari konten yang muncul di halaman For You Page (FYP). Hal ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran penting dalam memperkenalkan sebuah usaha kuliner kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Safira dan Bilqis, dua pelanggan lain yang merupakan fresh graduate dan belum memiliki penghasilan tetap. Mereka mengaku tidak memiliki jadwal khusus untuk datang ke Café Mokopi dan biasanya hanya berkunjung saat memiliki waktu luang.
Dalam satu kali nongkrong, mereka menghabiskan anggaran sekitar Rp100.000 dengan pilihan menu yang berbeda, yaitu kopi untuk Safira dan Chicken Teriyaki untuk Bilqis.
Berbeda dengan Rani, Safira dan Bilqis mengaku cukup merasakan dampak kenaikan dolar terhadap kondisi ekonomi sehari-hari. Menurut mereka, meningkatnya nilai dolar membuat harga kebutuhan pokok, termasuk makanan dan minuman, ikut naik sehingga mereka harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
Akibatnya, frekuensi nongkrong pun mulai dikurangi agar tetap sesuai dengan kemampuan finansial. Mereka juga mengungkapkan bahwa apabila Kafé Mokopi menaikkan harga menu secara signifikan, kemungkinan mereka akan mencari alternatif tempat nongkrong yang lebih terjangkau.
Namun, jika kenaikannya masih dalam batas yang wajar, mereka tetap bersedia datang. Untuk menyiasati kondisi ekonomi saat ini, keduanya memilih menabung terlebih dahulu agar kebutuhan utama tetap terpenuhi sekaligus masih memiliki kesempatan menikmati waktu bersantai di kafe.
Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa kenaikan nilai dolar memang mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama bagi kalangan muda yang belum memiliki penghasilan tetap. Namun demikian, minat untuk nongkrong di Kafé Mokopi belum mengalami penurunan yang signifikan.
Sebagian pelanggan tetap datang dengan cara menyesuaikan anggaran dan mengurangi frekuensi kunjungan, sementara pihak kafe berupaya mempertahankan harga menu agar tetap terjangkau.
Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah tantangan ekonomi, keseimbangan antara daya beli konsumen dan strategi pelaku usaha menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis kafe.(***)
Nama Penulis: Aida Nurhayati
Mahasiswa Uniku
