Terbaru

Budaya Bahasa Sunda di Kalangan Gen Z Mulai Memudar?

LIPUTAN KUNINGAN –

“Cing atuh nyarios na nganggo basa Sunda.”

Kalimat seperti itu mungkin masih sering terdengar di rumah, sekolah, atau lingkungan masyarakat di Kuningan. Namun jika diperhatikan lebih dekat, penggunaan bahasa Sunda di kalangan generasi muda tampaknya tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu. Bahasa Sunda memang belum hilang, tetapi cara dan frekuensi penggunaannya mulai mengalami perubahan.

Coba perhatikan percakapan remaja di sekolah, kampus, kafe, atau tempat nongkrong. Sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur bahasa gaul. Bahasa Sunda masih terdengar, tetapi tidak sesering dulu. Bahkan tidak sedikit anak muda yang mengaku memahami bahasa Sunda, namun merasa canggung ketika harus menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

Sebagai daerah yang masih kental dengan budaya Sunda, Kuningan sebenarnya memiliki modal besar untuk mempertahankan bahasa daerahnya. Bahasa Sunda masih diajarkan di sekolah dan masih digunakan oleh banyak masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Namun perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi perlahan mulai mengubah kebiasaan generasi muda.

Saat ini, media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Gen Z. Setiap hari mereka berinteraksi melalui Instagram, TikTok, X, maupun berbagai platform digital lainnya. Dalam ruang digital tersebut, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang paling sering digunakan. Bahkan tidak sedikit yang lebih nyaman menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris atau bahasa gaul yang sedang populer dibandingkan bahasa Sunda.

Fenomena ini sebenarnya cukup menarik. Banyak remaja Kuningan masih bisa memahami bahasa Sunda dengan baik ketika berbicara dengan orang tua atau kakek-nenek mereka. Namun ketika bertemu teman sebaya, mereka langsung beralih ke bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan terletak pada kemampuan memahami bahasa Sunda, melainkan pada kebiasaan menggunakannya.

Saya sendiri sering menemukan situasi seperti itu di lingkungan sekitar. Ketika berada di rumah, beberapa teman masih menggunakan bahasa Sunda dengan keluarganya. Namun ketika berkumpul di kampus atau nongkrong bersama teman, bahasa Indonesia menjadi pilihan utama. Bahkan terkadang ada yang merasa lebih percaya diri menggunakan bahasa Indonesia karena dianggap lebih modern dan lebih mudah dipahami oleh semua orang.

Tidak hanya itu, sebagian generasi muda juga mulai mengalami kesulitan menggunakan tingkatan bahasa Sunda, terutama bahasa lemes. Padahal dalam budaya Sunda, penggunaan bahasa lemes memiliki makna penting sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Akibatnya, ada remaja yang memahami maksud pembicaraan dalam bahasa Sunda lemes, tetapi kesulitan merespons dengan tingkatan bahasa yang sesuai.

Tentu kondisi ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada Gen Z. Dunia yang mereka hadapi jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam lingkungan yang lebih terbuka, berinteraksi dengan berbagai budaya, dan terhubung dengan banyak orang melalui internet. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang paling praktis untuk digunakan dalam berbagai situasi. Oleh karena itu, berkurangnya penggunaan bahasa Sunda lebih tepat dipandang sebagai dampak perubahan sosial daripada sekadar kurangnya rasa cinta terhadap budaya daerah.

Selain pengaruh media sosial, lingkungan keluarga juga memiliki peran penting. Saat ini tidak sedikit orang tua muda yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya sejak kecil. Alasannya beragam, mulai dari kebiasaan hingga anggapan bahwa bahasa Indonesia lebih mudah dipahami. Akibatnya, anak-anak memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa juga menyimpan nilai budaya, cara pandang, dan identitas suatu masyarakat. Dalam bahasa Sunda terdapat berbagai ungkapan yang mencerminkan kesopanan, rasa hormat, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Ketika penggunaan bahasa Sunda semakin berkurang, ada sebagian nilai budaya yang perlahan ikut memudar.

Meski demikian, kondisi ini bukan berarti bahasa Sunda berada di ambang kepunahan. Banyak komunitas, sekolah, dan pegiat budaya yang masih aktif mengenalkan bahasa Sunda kepada generasi muda. Bahkan di media sosial mulai muncul konten-konten kreatif berbahasa Sunda yang mendapat respons positif dari anak muda. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Sunda masih memiliki tempat di hati generasi sekarang, hanya bentuk penggunaannya yang berubah mengikuti perkembangan zaman.

Karena itu, upaya menjaga bahasa Sunda tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku. Generasi muda tidak perlu dipaksa meninggalkan bahasa Indonesia atau menolak perkembangan teknologi. Yang lebih penting adalah menciptakan ruang agar bahasa Sunda tetap digunakan dan dihargai dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan bahasa Sunda saat berbicara dengan keluarga, teman, atau dalam kegiatan budaya bisa menjadi langkah sederhana yang memiliki makna besar.

Pada akhirnya, bahasa Sunda bukan sekadar kumpulan kata yang digunakan untuk berkomunikasi. Di dalamnya terdapat sejarah, nilai kesopanan, dan identitas masyarakat Sunda yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Jika penggunaannya terus berkurang, yang hilang bukan hanya kosakata, tetapi juga sebagian dari jati diri budaya kita.

Menjaga bahasa Sunda bukan berarti menolak kemajuan zaman. Sebaliknya, hal itu merupakan cara agar kita tetap memiliki akar di tengah derasnya perubahan yang terjadi. Sebab masyarakat yang maju bukanlah masyarakat yang melupakan budayanya, melainkan masyarakat yang mampu berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Related posts

Mutiara Pagi Jumat 10 April 2026, Jika Usahamu Sudah Mentok, Maka Jangan Takut Karena Masih Ada Doa yang Tidak Pernah Ada Buntunya

Redaksi

Kang Emil : Keren Ini Baru Command Center

Redaksi

Kalau Ingin Terwujud, Jangan Malas Bersujud, Ini Jadwal Sholat Wilayah Kuningan Kamis 9 Oktober 2025

Redaksi

Leave a Comment