Info Opini Terbaru

Fenomena Viral Food dan Perubahan Perilaku Konsumen di Era Media Sosial

LIPUTAN KUNINGAN– Beberapa tahun lalu, sebuah tempat makan biasanya dikenal karena rasa yang enak dan rekomendasi dari pelanggan yang puas. Kini, situasinya mulai berubah. Sebuah makanan bisa mendadak ramai hanya karena muncul di TikTok, Instagram, atau diulas oleh seorang kreator konten. Dalam hitungan hari, tempat yang sebelumnya sepi dapat dipenuhi antrean panjang. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah viral food.

Media sosial memang telah mengubah cara masyarakat memilih makanan. Banyak orang kini mencari rekomendasi kuliner bukan lagi dari keluarga atau teman, melainkan dari konten yang muncul di beranda mereka. Video berdurasi beberapa detik sering kali cukup untuk memengaruhi seseorang mencoba makanan yang sebelumnya tidak pernah dikenal.

Di satu sisi, kondisi ini menunjukkan betapa besar pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumen. Namun di sisi lain, fenomena tersebut juga memunculkan pertanyaan: apakah masyarakat membeli makanan karena kualitasnya atau karena sedang viral?

Tidak dapat dimungkiri bahwa tren makanan viral sering kali mendorong rasa penasaran. Ketika suatu produk ramai dibicarakan dan muncul berulang kali di media sosial, banyak orang merasa perlu mencobanya. Bahkan tidak sedikit yang rela mengantre panjang hanya untuk merasakan makanan yang sedang populer. Dalam kondisi seperti ini, keputusan membeli sering kali lebih dipengaruhi oleh tren dibandingkan kebutuhan atau pertimbangan kualitas produk.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan budaya Fear of Missing Out atau FOMO. Banyak orang tidak ingin merasa tertinggal dari tren yang sedang berlangsung. Akibatnya, membeli makanan viral bukan lagi sekadar soal mengisi perut, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman sosial yang ingin dibagikan kepada orang lain.

Media sosial akhirnya membuat makanan memiliki fungsi baru. Tidak hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga untuk difoto, direkam, dan diunggah. Tidak jarang tampilan makanan menjadi lebih penting daripada cita rasanya sendiri. Selama menarik secara visual dan berpotensi mendapatkan perhatian di media sosial, sebuah produk memiliki peluang besar untuk menjadi viral.

Bagi pelaku usaha kuliner, kondisi ini tentu membuka peluang yang sangat besar. Saat ini, UMKM tidak selalu membutuhkan biaya promosi yang mahal untuk memperkenalkan produknya. Dengan strategi konten yang tepat, usaha kecil sekalipun memiliki kesempatan menjangkau ribuan bahkan jutaan calon konsumen.

Namun, di balik peluang tersebut terdapat tantangan yang tidak kalah besar. Banyak UMKM yang berlomba-lomba mengikuti tren demi mendapatkan perhatian pasar. Akibatnya, tidak sedikit usaha yang lebih fokus menciptakan produk yang menarik untuk konten media sosial dibandingkan membangun kualitas yang berkelanjutan.

Fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya produk yang muncul secara tiba-tiba ketika sedang viral, lalu menghilang beberapa bulan kemudian setelah tren berganti. Hal tersebut menunjukkan bahwa viralitas tidak selalu menjamin keberlangsungan usaha. Sebuah produk mungkin ramai dibeli pada awal kemunculannya, tetapi tanpa kualitas dan pelayanan yang baik, pelanggan tidak akan bertahan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi tantangan bagi UMKM lokal yang telah lama beroperasi. Banyak usaha kuliner yang memiliki cita rasa khas dan kualitas baik, tetapi kurang mendapatkan perhatian karena tidak aktif di media sosial atau tidak mengikuti tren yang sedang berkembang. Akibatnya, makanan yang viral sering kali lebih mudah dikenal dibandingkan produk lokal yang sebenarnya sudah memiliki kualitas yang terbukti.

Bagi daerah seperti Kuningan yang memiliki beragam pelaku UMKM kuliner, fenomena ini perlu disikapi dengan bijak. Media sosial memang dapat menjadi sarana promosi yang efektif, tetapi kualitas produk tetap harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai usaha hanya mengejar viral sesaat, tetapi melupakan kepuasan pelanggan yang menjadi kunci keberlangsungan bisnis.

Sementara itu, konsumen juga perlu lebih kritis dalam menghadapi berbagai tren kuliner yang bermunculan. Tidak semua makanan yang viral memiliki kualitas yang sebanding dengan popularitasnya. Sebelum mengikuti tren, penting untuk mempertimbangkan apakah keputusan tersebut benar-benar berdasarkan kebutuhan dan minat pribadi, atau hanya karena tidak ingin tertinggal dari orang lain.

Pada akhirnya, fenomena viral food menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi sekaligus mengambil keputusan pembelian. Bagi UMKM, kondisi ini merupakan peluang yang patut dimanfaatkan. Namun, keberhasilan usaha tidak dapat bergantung pada viralitas semata. Ketika tren berubah dan perhatian publik berpindah, kualitas produk, pelayanan, dan kepercayaan pelanggan tetap menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah usaha akan bertahan atau justru terlupakan.

Penulis : Dinda

Mahasiswa Uniku 

Related posts

Disperkintan Bareng Jamkrindo Bagikan 1000 Bendera Merah putih

Redaksi

Ini 150 Pejabat Pemkab Kuningan yang Dimutasi, Banyak yang Melesat, Ada juga yang Tenggelam

Redaksi

Gantikan AKBP Willy Adrian Jabat Kapolres Kuningan, Inilah Sosok AKBP Muhammad Ali Akbar

Redaksi

Leave a Comment