LIPUTAN KUNINGAN- Siapa sangka, kegiatan sederhana membantu anak-anak belajar di rumah mampu berkembang menjadi lembaga bimbingan belajar dengan enam cabang? Kisah tersebut datang dari Novi Siti Nuraeni.
Ia seorang ibu rumah tangga yang berhasil mendirikan dan mengembangkan Rumah Belajar Al Hazima hingga menjadi salah satu lembaga pendidikan nonformal yang dipercaya masyarakat di Kabupaten Kuningan.
Rumah Belajar Al Hazima merupakan lembaga bimbingan belajar yang menyediakan layanan pendidikan bagi anak usia 4 tahun (TK) hingga siswa kelas 6 SD. Program yang ditawarkan meliputi pembelajaran akademik, les privat mengaji, serta kelas gratis bahasa Inggris dan gradasi yang diselenggarakan setiap akhir pekan.
Lembaga yang berada di bawah naungan Yayasan Mahardika Orientas ini dipimpin langsung oleh Novi Siti Nuraeni. Salah satu cabangnya berada di Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Cabang tersebut didukung oleh empat tenaga pengajar yang melayani sekitar 131 siswa.
Didirikan pada tahun 2020, Rumah Belajar Al Hazima terus mengalami perkembangan pesat. Saat ini memiliki enam cabang yang tersebar di beberapa wilayah, yaitu Maniskidul, Sadamantra Kecamatan Jalaksana.
Kemudian Kalapagunung, Karangmangu di Kecamatan Kramatmulya. Lalu, Timbang Kecamatan Cigandamekar, Desa Kapandayan Kecamatan Ciawigebang dan semuanya berad adi di wilayah Kabupaten Kuningan.
“Awalnya hanya coba-coba membantu anak belajar di rumah, tetapi ternyata berkembang dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat,” ujar Novi, belum lama ini.
Selain memberikan layanan pendidikan, Rumah Belajar Al Hazima juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. Melalui kolaborasi dengan RT, RW, dan pemerintah desa, lembaga ini berupaya membantu anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi dengan menyediakan layanan belajar secara gratis.
“Kami bekerja sama dengan RT, RW, dan desa untuk membantu anak-anak yang membutuhkan atau kurang dari segi finansial dengan memberikan layanan gratis,” tambahnya.
Menurut Novi, motivasi utama mendirikan Rumah Belajar Al Hazima adalah rasa kepedulian dan kecintaan terhadap dunia anak. Ia berusaha menciptakan lingkungan belajar yang nyaman agar peserta didik dapat berkembang secara optimal.
“Jika anak merasa nyaman, maka proses belajar akan berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Dalam proses pembelajaran, para pengajar menerapkan metode yang disesuaikan dengan karakter setiap anak. Anak yang aktif maupun hiperaktif tidak dipaksa mengikuti aturan yang kaku, melainkan diajak belajar secara bertahap sesuai kebutuhan kenyamanan mereka.
“Kita tidak bisa memaksa anak. Jika semakin dipaksa, anak akan semakin memberontak. Sebagai guru, kita harus masuk ke dunia mereka dan mendengarkan keinginan mereka,” jelas Novi.
Ia menambahkan bahwa anak-anak harus dipandang sebagai teman belajar yang perlu dipahami, bukan sekadar objek pendidikan.“Anak itu bukan musuh, tetapi teman belajar. Jadi pendekatannya harus pelan-pelan agar anak merasa nyaman dan mau mengikuti prosesnya,” katanya lagi.
Untuk mendukung kebutuhan peserta didik, jadwal belajar di Rumah Belajar Al Hazima dibuat fleksibel sehingga dapat menyesuaikan dengan waktu anak setelah pulang sekolah maupun madrasah. Kegiatan belajar berlangsung setiap Senin hingga Jumat pukul 09.00-16.00 WIB.
Sementara itu, pada Sabtu dan Minggu diselenggarakan program gratis bahasa Inggris dan gradasi pada pukul 09.00–10.00 WIB. Hal ini untuk membantu para anak-anak yang ingin belajar Bahasa Inggris.
Keberhasilan Novi Siti Nuraeni dalam mengembangkan Rumah Belajar Al Hazima tidak lepas dari dukungan keluarga, terutama suami dan orang-orang terdekatnya.
Dedikasi serta pendekatan yang humanis menjadi kunci utama dalam membangun lembaga pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga memahami kebutuhan dan perkembangan setiap anak.
Dengan semangat berbagi ilmu dan kepedulian terhadap pendidikan anak, Rumah Belajar Al Hazima terus berupaya memberikan akses belajar yang nyaman, inklusif, dan terjangkau bagi masyarakat.(***)
Penulis Aam Amalia
Mahasiswa Unuku
